Orang "luar" mungkin terlanjur tahu bahwa Arsenal versus Tottenham Hotspur adalah derby London Utara. Buat orang Spurs, kaum The Gunners adalah pendatang dari tenggara, bukan asli utara.
*
Kepada teman yang berkunjung ke London dan menginap di rumah, bagi yang penggemar bola apalagi penggemar Tottenham atau Arsenal, saya paling suka mengajak mereka menelusuri tempat-tempat yang terkait dengan kedua klub ini. Bukan karena saya punya misi khusus, tetapi kebetulan saya tinggal di komplek perumahan di daerah Plumstead Common, London Tenggara, tempat Arsenal lebih seratus tahun lalu dilahirkan, dan untuk menunjukkan betapa sejarah dua klub ini erat bersinggung.
Saya akan membawa mereka ke komplek (bekas) pabrik pembuatan senjata di Woolwich Arsenal, yang sekarang berubah menjadi komplek perumahan mahal bernama Royal Arsenal. Komplek itu sekaligus menjadi tempat wisata lengkap dengan museum meriamnya dan pelabuhan di pinggir Sungai Thames yang sangat terkenal itu.
Seperti diketahui, adalah inisiatif pegawai dari pabrik senjata itu yang menjadi cikal bakal Arsenal yang sekarang. Dua kandang awal Arsenal, Manor Ground, sekarang berubah menjadi gudang industri, dan Invicta Ground, sekarang tak bersisa menjadi perumahan penduduk yang agak kumuh, berada tak jauh dari pintu masuk sebelah timur pabrik senjata itu.
Tidak semua teman pendukung Arsenal tertarik dengan kunjungan itu karena memang sulit untuk bisa merasakan greget pentingnya akar London Tenggara Arsenal kalau bukan orang lokal. Sementara teman pendukung Tottenham merasa, buat apa mengunjungi tempat lahir Arsenal.
Tak apa. Saya sangat bisa mengerti kedua sentimen itu, dan tak rugi-apa-apa. Toh untuk sekadar melewati dan menunjukkan tempat-tempat itu hanya makan waktu tak lebih dari 15 menit pakai mobil. Atau bisa dilakukan sambil lalu ketika berangkat ke pusat kota, yang harus dimulai dari stasiun kereta api atas tanah (atau dikenal dengan British Rail) Woolwich Arsenal, yang bersebelahan dengan tempat-tempat yang saya sebutkan tadi.
Biasanya, baru setelah kami menyeberang Sungai Thames dan berada di London Utara, mengunjungi baik Tottenham (White Hart Lane) ataupun Arsenal (Emirates) --keduanya hanya terpisahkan sejauh sekitar 5,5 kilometer--, saya bisa menjelaskan dengan mudah mengapa tempat kelahiran Arsenal di Plumstead itu menjadi penting.
Penggemar bola, begitupun juga media, sering melukiskan persaingan sengit Tottenham dan Arsenal dikarenakan mereka bertetangga, berebut wilayah. Ada benarnya tentu saja. Tetapi dengan memahami kelahiran Arsenal di Plumstead tahun 1886, ia memberi konteks persaingan Tottenham-Arsenal yang berbeda. Ada sebuah permusuhan yang lebih mendasar lagi, sebuah persoalan resentment (rasa penolakan yang sengit) oleh satu kelompok masyarakat terhadap kelompok lain yang dianggap asing, bukan penduduk asli, pendatang.
Dan pintu masuk cerita yang saya gunakan selalu sama, ketika kami berhenti di sebuah stasiun kereta api bawah tanah bernama Arsenal. Sebuah stasiun kereta api di jalur bernama Piccadilly yang melayani London Utara menembus pusat kota dan berujung di bandar udara Heathrow di London Barat. Hanya sebuah stasiun kecil, sepi, terjepit (dalam arti yang sesungguhnya) di antara deretan rumah penduduk. Akan tetapi, menyebut keberadaan stasiun itu ke penggemar Tottenham, itulah tumpahan minyak abadi bagi api yang terus mengingatkan akan hilangnya sebuah wilayah yang direbut pendatang dan tak akan pernah lagi kembali.
*
Kepada teman yang berkunjung ke London dan menginap di rumah, bagi yang penggemar bola apalagi penggemar Tottenham atau Arsenal, saya paling suka mengajak mereka menelusuri tempat-tempat yang terkait dengan kedua klub ini. Bukan karena saya punya misi khusus, tetapi kebetulan saya tinggal di komplek perumahan di daerah Plumstead Common, London Tenggara, tempat Arsenal lebih seratus tahun lalu dilahirkan, dan untuk menunjukkan betapa sejarah dua klub ini erat bersinggung.
Saya akan membawa mereka ke komplek (bekas) pabrik pembuatan senjata di Woolwich Arsenal, yang sekarang berubah menjadi komplek perumahan mahal bernama Royal Arsenal. Komplek itu sekaligus menjadi tempat wisata lengkap dengan museum meriamnya dan pelabuhan di pinggir Sungai Thames yang sangat terkenal itu.
Seperti diketahui, adalah inisiatif pegawai dari pabrik senjata itu yang menjadi cikal bakal Arsenal yang sekarang. Dua kandang awal Arsenal, Manor Ground, sekarang berubah menjadi gudang industri, dan Invicta Ground, sekarang tak bersisa menjadi perumahan penduduk yang agak kumuh, berada tak jauh dari pintu masuk sebelah timur pabrik senjata itu.
Tidak semua teman pendukung Arsenal tertarik dengan kunjungan itu karena memang sulit untuk bisa merasakan greget pentingnya akar London Tenggara Arsenal kalau bukan orang lokal. Sementara teman pendukung Tottenham merasa, buat apa mengunjungi tempat lahir Arsenal.
Tak apa. Saya sangat bisa mengerti kedua sentimen itu, dan tak rugi-apa-apa. Toh untuk sekadar melewati dan menunjukkan tempat-tempat itu hanya makan waktu tak lebih dari 15 menit pakai mobil. Atau bisa dilakukan sambil lalu ketika berangkat ke pusat kota, yang harus dimulai dari stasiun kereta api atas tanah (atau dikenal dengan British Rail) Woolwich Arsenal, yang bersebelahan dengan tempat-tempat yang saya sebutkan tadi.
Biasanya, baru setelah kami menyeberang Sungai Thames dan berada di London Utara, mengunjungi baik Tottenham (White Hart Lane) ataupun Arsenal (Emirates) --keduanya hanya terpisahkan sejauh sekitar 5,5 kilometer--, saya bisa menjelaskan dengan mudah mengapa tempat kelahiran Arsenal di Plumstead itu menjadi penting.
Penggemar bola, begitupun juga media, sering melukiskan persaingan sengit Tottenham dan Arsenal dikarenakan mereka bertetangga, berebut wilayah. Ada benarnya tentu saja. Tetapi dengan memahami kelahiran Arsenal di Plumstead tahun 1886, ia memberi konteks persaingan Tottenham-Arsenal yang berbeda. Ada sebuah permusuhan yang lebih mendasar lagi, sebuah persoalan resentment (rasa penolakan yang sengit) oleh satu kelompok masyarakat terhadap kelompok lain yang dianggap asing, bukan penduduk asli, pendatang.
Dan pintu masuk cerita yang saya gunakan selalu sama, ketika kami berhenti di sebuah stasiun kereta api bawah tanah bernama Arsenal. Sebuah stasiun kereta api di jalur bernama Piccadilly yang melayani London Utara menembus pusat kota dan berujung di bandar udara Heathrow di London Barat. Hanya sebuah stasiun kecil, sepi, terjepit (dalam arti yang sesungguhnya) di antara deretan rumah penduduk. Akan tetapi, menyebut keberadaan stasiun itu ke penggemar Tottenham, itulah tumpahan minyak abadi bagi api yang terus mengingatkan akan hilangnya sebuah wilayah yang direbut pendatang dan tak akan pernah lagi kembali.
Foto udara London Utara (ciwm.co.uk)
Komentar
Posting Komentar