Allardyce, Guardiola, dan Percakapan yang Tak Kunjung Usai

thumbnailAFP
Untuk sebuah alasan yang bisa dimengerti, posisi ujung tombak, striker atau yang secara tradisional dikenal dengan nomor 9 selalu mendapat perhatian yang berlebih dibanding yang lain.

Apa hendak dikata, kemenangan dalam pertandingan sepakbola bertumpu pada jumlah gol yang dicetak. Dan tugas itu jatuh pada mereka yang berada di garis paling depan penyerangan. Apalah guna punya seseorang di garis paling depan, paling dekat dengan gawang lawan, kalau tidak untuk itu?

Kita mengerti, ia tidak bisa bekerja sendirian. Kita pun mengerti, gol juga bisa dicetak oleh mereka yang berposisi berbeda. Tetapi itu tidak menghapus tanggung jawab utama ujung tombak tim, dan bukan pula pembenaran bagi mereka untuk kemudian mengatakan, "saya hanya bagian dari tim dan meraih kemenangan (mencetak gol) adalah tugas bersama."

Tugas bersama tentu saja, tapi semua punya porsi tanggung jawab masing-masing. Untuk contoh ekstrim, kiper tentu saja tanggung jawab utamanya bukanlah mencetak gol melainkan menjaga gawangnya supaya tidak kebobolan.

Bahkan strategi dan taktik yang ultradefensif sekalipun pada dasarnya adalah sebuah sistem permainan untuk selalu mengintai dan memanfaatkan semaksimal mungkin sempitnya jendela kesempatan mencetak gol. Dibanding yang lain, ketergantungan permainan ultradefensif pada striker justru amat sangat untuk meraih kemenangan.

Dus semua percakapan tentang bola, taktik dan strategi kalau dilucuti satu per satu hingga ke tulang pokoknya sebenarnya hanyalah berkisar pada dua hal: membantu tanggung jawab si ujung tombak untuk mencetak gol dan/atau menegasi, mencegah, mengantisipasi dan menghentikan sang ujung tombak tim lawan dalam menjalankan tugasnya. Sesederhana itu.

Lalu publik sepakbola Inggris pun dibuat tertegun oleh eksperimen Sam Allardyce. Ia menurunkan tim (West Ham) tanpa striker dalam sebuah pertandingan melawan Tottenham. Ia menjalankan formasi 4-6-0, dan bukan 4-4-2 seperti kebiasaannya. Enam gelandang menyumpal lini tengah dengan posisi hampir sejajar yang bergerak menyerang bersama dan membangun garis pertahanan pertama secara bersama pula. Gaya yang sama ia lakukan lagi melawan Manchester City dan kemudian ia coba lagi melawan Swansea.

Persoalan hasil dari pertandingan-pertandingan itu tidaklah penting. Persoalannya adalah pada Sam Allardyce. Penggemar sepakbola Inggris pasti mengerti, Big Sam bukanlah nama yang biasa diasosiasikan dengan imajinasi yang liar, indah atau di luar kebiasaan. Bahkan kasarnya, Allardyce dan imajinasi adalah dua titik ekstrim pendulum yang berlawanan.

Ini bukan mengejek dan juga bukan penilaian saya. Tanyakan saja pada publik dan pakar sepakbola Inggris, karena mereka yang memberi penilaian itu. Lihat jejak rekamnya di Bolton, Newcastle atau Blackburn. Anda pun akan mengerti dari mana penilaian itu datang. 

Allardyce juga bukan Josep Guardiola I Sala, atau yang kita lebih mengenalnya dengan Pep Guardiola. Ia, Guardiola, berada di spektrum kreativitas dan imajinasi yang mungkin tak akan tersentuh Allardyce. Sekali lagi ini bukan ejekan, karena dalam (katakanlah) lima enam tahun terakhir memang tak banyak pelatih di Eropa ataupun dunia yang bisa menyejajarkan diri dengan Guardiola untuk persoalan imajinasi dan kreativitas. Pun untuk persoalan prestasi.

Komentar