Sepakbola katanya adalah permainan universal yang bisa menyatukan dunia. Tentu ini berarti sepakbola memang telah dimainkan di seluruh penjuru dunia. Dan sebagai kompetisi terakbar, bukankah sewajarnya Piala Dunia juga diselenggarakan di berbagai tempat dengan berbagai cuaca? Yang Eropa merasakan panasnya Amerika Selatan, dan yang Amerika Selatan mencicipi angin Afrika.
Lalu bagaimana dengan Qatar? Dengan suhu berkisar 50 derajat celcius, masih cocok kah Qatar menjadi tuan rumah Piala Dunia? Adakah cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengakalinya?
Piala Dunia 2022 di dataran Arab itu memang masih satu dekade lagi. Tapi masalah cuaca telah menjadi topik panas di kalangan para penggemar sepakbola dan FIFA.
Bertemu Iklim Gurun
Di musim panas, iklim di Qatar dapat digambarkan sebagai subtropis kering, atau iklim gurun yang panas. Iklim ini menyebabkan adanya perbedaan besar antara suhu maksimal dan minimal, terutama di daerah daratan tak berpantai. Perbedaan besar ini juga berlaku untuk kelembaban udara yang bisa sangat bervariasi, bergantung pada suhu.
Satu perdebatan yang terus berlangsung hingga saat ini adalah tentang waktu penyelenggaraannya di bulan Juni. Memang pada musim panas (Juni sampai September), Qatar akan sangat panas dengan curah hujan rendah. Suhu maksimal harian dapat mencapai 50° C, yang artinya: very very hot!
Penyelenggaraan Piala Dunia di Qatar dinilai "berisiko tinggi" karena faktor iklim dan cuaca tersebut. Bahkan sempat ada wacana untuk memindahkan Piala Dunia 2022 ke musim dingin.
Jika melihat kembali ke Piala Asia 2011 di Qatar, turnamen tersebut dijalankan di bulan Januari (musim dingin) ketika suhu lebih bersahabat, yaitu sekitar 27° C. Sementara itu, 50° C memang dinilai terlampau panas. Bahkan untuk negara-negara Teluk sekalipun.
Hindari Dehidrasi!

Lalu bagaimana dengan Qatar? Dengan suhu berkisar 50 derajat celcius, masih cocok kah Qatar menjadi tuan rumah Piala Dunia? Adakah cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengakalinya?
Piala Dunia 2022 di dataran Arab itu memang masih satu dekade lagi. Tapi masalah cuaca telah menjadi topik panas di kalangan para penggemar sepakbola dan FIFA.
Bertemu Iklim Gurun
Di musim panas, iklim di Qatar dapat digambarkan sebagai subtropis kering, atau iklim gurun yang panas. Iklim ini menyebabkan adanya perbedaan besar antara suhu maksimal dan minimal, terutama di daerah daratan tak berpantai. Perbedaan besar ini juga berlaku untuk kelembaban udara yang bisa sangat bervariasi, bergantung pada suhu.
Satu perdebatan yang terus berlangsung hingga saat ini adalah tentang waktu penyelenggaraannya di bulan Juni. Memang pada musim panas (Juni sampai September), Qatar akan sangat panas dengan curah hujan rendah. Suhu maksimal harian dapat mencapai 50° C, yang artinya: very very hot!
Penyelenggaraan Piala Dunia di Qatar dinilai "berisiko tinggi" karena faktor iklim dan cuaca tersebut. Bahkan sempat ada wacana untuk memindahkan Piala Dunia 2022 ke musim dingin.
Jika melihat kembali ke Piala Asia 2011 di Qatar, turnamen tersebut dijalankan di bulan Januari (musim dingin) ketika suhu lebih bersahabat, yaitu sekitar 27° C. Sementara itu, 50° C memang dinilai terlampau panas. Bahkan untuk negara-negara Teluk sekalipun.
Hindari Dehidrasi!

Getty Images
Komentar
Posting Komentar