Bagi David Moyes, pertemuan Manchester United dengan Everton di Liga Inggris malam nanti boleh jadi menghadirkan rasa membuatnya sedikit bercampur-aduk.
Di satu sisi, berkat melatih Everton lah Moyes dilirik manajemen MU dan lantas dipekerjakan sebagai manajer. Menangani 'Si Biru' selama 11 tahun dengan dukungan finansial yang seadanya, Moyes tumbuh jadi pelatih yang pintar mengatasi keterbatasan. Atas kinerjanya itu diapun dianggap mampu menggantikan nama besar Sir Alex Ferguson. Maka, kembali bertemu klub yang membesarkan dan dibesarkannya tentu jadi peristiwa yang menyenangkan.
Namun, mengaitkan Everton dengan Manchester United membawa kepedihan tersendiri bagi Moyes. Ia tentu masih ingat berbagai kisah kelamnya ketika harus membawa Everton bertanding ke Old Trafford. Faktanya, ketika ditangani Moyes, Everton belum pernah menang dalam 20 pertandingan liga di kandang 'Setan Merah'.
Fakta lainnya, Everton adalah lumbung gol bagi United. Total 84 gol berhasil dilesakkan United sepanjang sejarah Premier League ke gawang Everton. Jumlah ini lebih banyak jika dibandingkan gol United ke gawang tim-tim lain.
Selama melatih Everton, bertanding di Old Trafford bagi Moyes bisa jadi sebuah mimpi buruk yang terus menghantui. Mimpi yang tidak pernah tuntas, meski memiliki semangat dan motivasi berlebih untuk mengakhirinya.
Kisah kelam Moyes dengan Everton pun tak berhenti sampai di situ. Sepanjang karirnya, ia selalu berada di bawah bayangan tim-tim besar Inggris lainya. Selama satu dekade kepelatihannya, rak piala di markas Everton juga berdebu, karena tidak ada satu pun trofi yang dapat dia berikan ke publik Goodison Park.
Melalui laga ini, David Moyes seakan sedang bercermin dengan masa lalunya. Keputusannya untuk pindah dari Everton ke United tentu atas dasar dorongan kuat untuk meninggalkan zona nyamanya. Bagaimanapun juga, sepakbola memang ajangnya manusia-manusia yang menembus batas-batas kemampuannya sendiri. Bukan untuk yang terlena di lingkaran aman.
Apalagi tongkat komando baru yang diberikan kepada Moyes juga bukan dari klub sembarangan. Manchester United adalah klub tersukses di Liga Inggris, yang selalu menjadi momok menakutkan baginya dahulu. Tentu ini jadi ujian tertinggi dalam sejarah kepelatihannya.
Manchester United adalah salah satu upaya Moyes untuk meraih kesuksesan di Liga Inggris. Satu hal yang sulit ia wujudkan di kota Liverpool, bersama Everton. Manchester United juga jadi jawaban Moyes, atas kritik yang menyebut dirinya terlampau lama bersembunyi di belakang hasil "sukses finis di papan tengah Liga Inggris, meski tanpa gelar".
Prihal meninggalkan Everton untuk mencari kesuksesan, pria asal Skotlandia ini sebenarnya tidak sendiri. Beberapa pasukan lamanya juga ikut ke kerajaan barunya sekarang. Phil Neville ditunjuk sebagai first team coach bersama dengan ketiga asisten lainya,yaitu Steve Round (asisten manajer), Chris Woods (pelatih kiper) dan Jimmy Lumsden (pelatih). Semuanya adalah bekas tangan kanan Moyes di Everton.
Di satu sisi, berkat melatih Everton lah Moyes dilirik manajemen MU dan lantas dipekerjakan sebagai manajer. Menangani 'Si Biru' selama 11 tahun dengan dukungan finansial yang seadanya, Moyes tumbuh jadi pelatih yang pintar mengatasi keterbatasan. Atas kinerjanya itu diapun dianggap mampu menggantikan nama besar Sir Alex Ferguson. Maka, kembali bertemu klub yang membesarkan dan dibesarkannya tentu jadi peristiwa yang menyenangkan.
Namun, mengaitkan Everton dengan Manchester United membawa kepedihan tersendiri bagi Moyes. Ia tentu masih ingat berbagai kisah kelamnya ketika harus membawa Everton bertanding ke Old Trafford. Faktanya, ketika ditangani Moyes, Everton belum pernah menang dalam 20 pertandingan liga di kandang 'Setan Merah'.
Fakta lainnya, Everton adalah lumbung gol bagi United. Total 84 gol berhasil dilesakkan United sepanjang sejarah Premier League ke gawang Everton. Jumlah ini lebih banyak jika dibandingkan gol United ke gawang tim-tim lain.
Selama melatih Everton, bertanding di Old Trafford bagi Moyes bisa jadi sebuah mimpi buruk yang terus menghantui. Mimpi yang tidak pernah tuntas, meski memiliki semangat dan motivasi berlebih untuk mengakhirinya.
Kisah kelam Moyes dengan Everton pun tak berhenti sampai di situ. Sepanjang karirnya, ia selalu berada di bawah bayangan tim-tim besar Inggris lainya. Selama satu dekade kepelatihannya, rak piala di markas Everton juga berdebu, karena tidak ada satu pun trofi yang dapat dia berikan ke publik Goodison Park.
Melalui laga ini, David Moyes seakan sedang bercermin dengan masa lalunya. Keputusannya untuk pindah dari Everton ke United tentu atas dasar dorongan kuat untuk meninggalkan zona nyamanya. Bagaimanapun juga, sepakbola memang ajangnya manusia-manusia yang menembus batas-batas kemampuannya sendiri. Bukan untuk yang terlena di lingkaran aman.
Apalagi tongkat komando baru yang diberikan kepada Moyes juga bukan dari klub sembarangan. Manchester United adalah klub tersukses di Liga Inggris, yang selalu menjadi momok menakutkan baginya dahulu. Tentu ini jadi ujian tertinggi dalam sejarah kepelatihannya.
Manchester United adalah salah satu upaya Moyes untuk meraih kesuksesan di Liga Inggris. Satu hal yang sulit ia wujudkan di kota Liverpool, bersama Everton. Manchester United juga jadi jawaban Moyes, atas kritik yang menyebut dirinya terlampau lama bersembunyi di belakang hasil "sukses finis di papan tengah Liga Inggris, meski tanpa gelar".
Prihal meninggalkan Everton untuk mencari kesuksesan, pria asal Skotlandia ini sebenarnya tidak sendiri. Beberapa pasukan lamanya juga ikut ke kerajaan barunya sekarang. Phil Neville ditunjuk sebagai first team coach bersama dengan ketiga asisten lainya,yaitu Steve Round (asisten manajer), Chris Woods (pelatih kiper) dan Jimmy Lumsden (pelatih). Semuanya adalah bekas tangan kanan Moyes di Everton.
Getty Images/Matthew Peters
Komentar
Posting Komentar