Di gang kecil jalan masuk bagi para pemain ke lapangan tenis Centre Court di Wimbledon [lihat foto di atas], ada sebuah kutipan berbunyi, "If you can meet with triumph and disaster | and treat those two imposters just the same."
Terjemahan bebasnya kira-kira seperti ini: "Jika kamu bisa menghadapi kejayaan dan bencana | dan menyapa kedua cobaan dengan sama tabahnya."
Kita tahu, kalimat itu adalah cukilan dari sajak If karya Rudyard Kipling yang ditulis tahun 1909. Sebuah sajak yang dimaksudkan oleh pemenang Nobel Kesusastraan 1907 sebagai sebuah nasehat untuk anaknya.
Sajak 32 baris itu tidak hanya berbicara tentang ketabahan menghadapi cobaan dalam bentuk kejayaan dan bencana, tetapi juga kesetiakawanan, kejujuran, kegigihan, kesabaran, perjuangan, menghormati sesama, pengorbanan dan kerendahan hati. Kipling berharap, jika anaknya bisa merengkuh semua nilai itu, maka "Yours is the earth and everything that's in it | And -- which is more -- you’ll be a man, my son— Dunia dan segala isinya adalah milikmu | Dan yang lebih penting lagi anakku, kamu akan menjadi laki-laki, manusia seutuhnya,"’ seperti ia tulis di akhir sajaknya. Menjadi gentleman --beradab --mungkin rumusan yang lebih kita kenal.
Sajak If ini, atau berbagai cukilan dari sajak ini, bukan hanya ada di lapangan tenis Wimbledon, tetapi juga di ruang ganti-ruang ganti di seantero negeri, tergantung di ruang-ruang kelas, menempel di kamar anak-anak, terselip di lipatan buku dan dibacakan di banyak kesempatan.
Saya tidak akan pernah lupa Piala Dunia 1998 di Prancis karena sajak ini.
Seperti biasa setiap kali ke Piala Dunia, Inggris saat itu datang dengan optimisme berlebihan. Namun untuk yang kali itu saya ikut setuju, optimistis walau tak berlebihan, dan tak kemudian berharap menjadi juara.
Ya, Inggris datang dengan bintang-bintang muda yang bergairah dan polos. Bermain menawan dengan selip senyum dan kegembiraan,
Namun seperti kita tahu Inggris tersingkir prematur di babak 16 besar. Permainan yang indah, bergairah dan senyum tidaklah cukup. Anda juga memerlukan keberuntungan dan pengalaman. Dan yang kedua terakhir ini milik para veteran dari Argentina yang mengalahkan mereka.
Kita ingat akan gol indah Michael Owen tetapi juga kartu merah David Beckham. Kita ingat akan kegigihan 10 pemain Inggris di lapangan tetapi juga kegagalan di adu penalti.
Terjemahan bebasnya kira-kira seperti ini: "Jika kamu bisa menghadapi kejayaan dan bencana | dan menyapa kedua cobaan dengan sama tabahnya."
Kita tahu, kalimat itu adalah cukilan dari sajak If karya Rudyard Kipling yang ditulis tahun 1909. Sebuah sajak yang dimaksudkan oleh pemenang Nobel Kesusastraan 1907 sebagai sebuah nasehat untuk anaknya.
Sajak 32 baris itu tidak hanya berbicara tentang ketabahan menghadapi cobaan dalam bentuk kejayaan dan bencana, tetapi juga kesetiakawanan, kejujuran, kegigihan, kesabaran, perjuangan, menghormati sesama, pengorbanan dan kerendahan hati. Kipling berharap, jika anaknya bisa merengkuh semua nilai itu, maka "Yours is the earth and everything that's in it | And -- which is more -- you’ll be a man, my son— Dunia dan segala isinya adalah milikmu | Dan yang lebih penting lagi anakku, kamu akan menjadi laki-laki, manusia seutuhnya,"’ seperti ia tulis di akhir sajaknya. Menjadi gentleman --beradab --mungkin rumusan yang lebih kita kenal.
Sajak If ini, atau berbagai cukilan dari sajak ini, bukan hanya ada di lapangan tenis Wimbledon, tetapi juga di ruang ganti-ruang ganti di seantero negeri, tergantung di ruang-ruang kelas, menempel di kamar anak-anak, terselip di lipatan buku dan dibacakan di banyak kesempatan.
Saya tidak akan pernah lupa Piala Dunia 1998 di Prancis karena sajak ini.
Seperti biasa setiap kali ke Piala Dunia, Inggris saat itu datang dengan optimisme berlebihan. Namun untuk yang kali itu saya ikut setuju, optimistis walau tak berlebihan, dan tak kemudian berharap menjadi juara.
Ya, Inggris datang dengan bintang-bintang muda yang bergairah dan polos. Bermain menawan dengan selip senyum dan kegembiraan,
Namun seperti kita tahu Inggris tersingkir prematur di babak 16 besar. Permainan yang indah, bergairah dan senyum tidaklah cukup. Anda juga memerlukan keberuntungan dan pengalaman. Dan yang kedua terakhir ini milik para veteran dari Argentina yang mengalahkan mereka.
Kita ingat akan gol indah Michael Owen tetapi juga kartu merah David Beckham. Kita ingat akan kegigihan 10 pemain Inggris di lapangan tetapi juga kegagalan di adu penalti.

Komentar
Posting Komentar