Konsekuensi 100 Juta Euro

thumbnailReal Madrid via Getty Images/Angel Martinez
Jangan heran jika dalam beberapa hari terakhir banyak kabar atau berita soal Gareth Bale. Memang begitu risikonya, memang begitu konsekuensinya jadi pemain termahal di dunia.

Dengan label harga 100 juta euro, mudah saja bagi Bale untuk mendapatkan semua pandangan, meski tidak semua pandangan adalah pandangan bagus. Pandangan yang meragukan kalau mau dihitung pun tidak sedikit. Maklum, meski berharga mahal, Bale belum pernah memenangi trofi apa-apa. Trofi individu terbaiknya pun PFA Players' Player of the Year (Pemain Terbaik versi Pemain) dan FWA Footballer of the Year (Pemain Terbaik versi Jurnalis Sepakbola). Itu pun levelnya masih di Inggris semata.

Jangan bandingkan dengan Cristiano Ronaldo ataupun Lionel Messi yang sudah meraih segudang trofi bersama klub, plus trofi individu di level Eropa dan di dunia. Hanya dengan melongok halaman Wikipedia dari ketiga pemain ini, akan terpampang jelas perbedaan raihan maupun pencapaian ketiganya. Singkat kata, sebagus apapun kemampuan individunya, Bale memang punya "celah" untuk diragukan dan dipertanyakan, apakah dia layak dihargai semahal itu?

Jawabannya memang bisa menghadirkan pro dan kontra. Jangan tanya pula, "Kok Madrid mau-maunya mengeluarkan duit semahal itu untuk pemain yang belum mencapai level luar biasa?". Sebab, Madrid bisa dengan santai menjawab, "Karena kami bisa." Ya, memang begitulah Madrid. Jangan khawatirkan uang banyak yang mereka belanjakan. Dengan status sebagai "Klub Paling Bernilai di Dunia" versi majalah bisnis terkemuka dunia Forbes, Madrid diperkirakan bakal cepat balik modal.

Yang perlu dikhawatirkan justru Bale sendiri. Sorotan akan langsung ditujukan padanya tepat saat momen pertama kali dia menyentuh bola di lapangan. Eks pemain Liverpool yang juga berasal dari Wales --sama seperti Bale--, Ian Rush, menyebut bahwa kesan pertama bakal penting untuk pemain berusia 24 tahun tersebut.

"Terkadang dalam masa sekarang yang terpenting adalah kesan instan. Saya harap dia bisa menghadapinya," kata Rush.

Kata-kata singkat dari Rush itu mencerminkan harapan sekaligus kecemasan. Bagaimana seandainya Bale tidak tampil bagus pada laga pertamanya berkostum Los Blancos? Silakan membayang-bayangkan apa yang akan ditulis oleh media-media Spanyol yang terkenal sama cerewetnya dengan media-media Inggris. Akan bagus, mungkin, kalau Bale main buruk dan dia belum lancar berbahasa (atau membaca) bahasa Spanyol.

Ketenaran dan keagungan memang kerap menunjukkan wajah buruknya secepat dia memberi impresi atas wajah cantiknya. Semua ada konsekuensinya, semua ada risikonya. Jangan heran jika melihat orang-orang yang sedang duduk di puncak ketenaran, tapi mereka justru merasa tidak bahagia. Cerita-cerita ini sudah jamak terjadi dan menimpa mulai dari selebriti, musisi, hingga atlet.

Mike Tyson demikian. Dia seperti kaget tiba-tiba punya uang banyak dari bertinju. Dia mulai membeli benda-benda tidak penting, mulai dari cincin berharga ratusan ribu dolar (miliaran rupiah) sampai memelihara harimau --yang entah buat apa. Ujung-ujungnya Tyson punya banyak utang dan bangkrut.

John Frusciante demikian. Eks gitaris Red Hot Chili Peppers itu senang bukan kepalang ketika dia lolos audisi untuk jadi gitaris band favoritnya itu, dia senang bukan kepalang. Saking senangnya, dia mengaku sampai loncat-loncat di atas sofa rumahnya. Usianya baru 17 tahun ketika itu.

Komentar