Mengatakan bahwa Piala Dunia Qatar tidak akan memakan korban adalah satu kesalahan. Pada periode Juli hingga Agustus 2013 saja sudah ada 40 buruh yang tewas di beberapa konstruksi terkait Piala Dunia itu.
Ada yang mati karena terjatuh dari ketinggian, saat bekerja di tempat yang bahkan tidak menyediakan helm. Ada yang mati kelelahan karena jantungnya tidak berfungsi lagi dipaksa bekerja terus menerus, dua belas jam sehari, tujuh hari seminggu.
Mereka-mereka yang datang ke Qatar dalam keadaan sehat, kemudian pulang ke negaranya dalam bentuk jenazah. Dan banyak di antaranya yang sudah merenggang nyawa di usia kurang dari 40 tahun.
Ya. Piala Dunia Qatar memang sudah memakan korban. Di balik hingar-bingar perseteruan antara petinggi FIFA, penyelenggara liga, dan pemilik hak siar televisi tentang dipindahkannya event akbar ini ke musim dingin, perlahan nyawa pun terus berjatuhan.
Terjebak Kafala
Meski bukan jadi buruh bangunan yang bekerja di terik matahari, Zahir Belounis, seorang pesepakbola asal Prancis berdarah Aljazair, juga merasakan bagaimana kerasnya mencari nafkah di Qatar. Dalam dua setengah tahun terakhir ia tidak mendapatkan gaji, tidak memiliki klub, atau memiliki kesempatan untuk pulang ke Prancis.
Dalam periode itu Zahir telah menjual harta benda miliknya untuk sekadar menyambung hidup istri dan kedua anaknya. Ia juga memiliki utang lebih dari 70 ribu euro untuk sewa rumah yang ia tinggali saat ini. Datang ke Qatar demi mencicipi uang, kini Zahir harus terkatung-katung tanpa kejelasan.
Awal mula keterpurukan ini dimulai saat Zahir bermigrasi ke Qatar pada 2007, ketika ia bergabung dengan klub Millitary Sport Association. Setelah menyelesaikan kontraknya selama 3 tahun, Zahir sebenarnya sempat kembali ke Prancis. Namun, saat Military Sport Association mendapatkan promosi, Zahir kembali memperkuat klub itu dengan kontrak selama 5 tahun.
Masalah muncul ketika Military Sport Association berubah menjadi Al-Jaish, dan Zahir tidak menandatangi perbaharuan kontrak yang menyatakan bahwa ia bekerja untuk Al-Jaish. Tiba-tiba saja Zahir tidak memiliki proteksi dan kejelasan status secara hukum. Di saat yang bersamaan, Al-Jaish juga seakan tidak lagi membutuhkan tenaga Zahir. Ia dianggap pemain surplus yang mesti dibuang. Zahir juga sempat dipinjamkan ke klub lain.
"Setelah satu tahun (berubah jadi Al-Jaish), mereka tiba-tiba menghentikan bayaranku," keluh Zahir, "dan setelah berbulan-bulan, mereka tetap mengatakan hal yang sama."
Ada yang mati karena terjatuh dari ketinggian, saat bekerja di tempat yang bahkan tidak menyediakan helm. Ada yang mati kelelahan karena jantungnya tidak berfungsi lagi dipaksa bekerja terus menerus, dua belas jam sehari, tujuh hari seminggu.
Mereka-mereka yang datang ke Qatar dalam keadaan sehat, kemudian pulang ke negaranya dalam bentuk jenazah. Dan banyak di antaranya yang sudah merenggang nyawa di usia kurang dari 40 tahun.
Ya. Piala Dunia Qatar memang sudah memakan korban. Di balik hingar-bingar perseteruan antara petinggi FIFA, penyelenggara liga, dan pemilik hak siar televisi tentang dipindahkannya event akbar ini ke musim dingin, perlahan nyawa pun terus berjatuhan.
Terjebak Kafala
Meski bukan jadi buruh bangunan yang bekerja di terik matahari, Zahir Belounis, seorang pesepakbola asal Prancis berdarah Aljazair, juga merasakan bagaimana kerasnya mencari nafkah di Qatar. Dalam dua setengah tahun terakhir ia tidak mendapatkan gaji, tidak memiliki klub, atau memiliki kesempatan untuk pulang ke Prancis.
Dalam periode itu Zahir telah menjual harta benda miliknya untuk sekadar menyambung hidup istri dan kedua anaknya. Ia juga memiliki utang lebih dari 70 ribu euro untuk sewa rumah yang ia tinggali saat ini. Datang ke Qatar demi mencicipi uang, kini Zahir harus terkatung-katung tanpa kejelasan.Awal mula keterpurukan ini dimulai saat Zahir bermigrasi ke Qatar pada 2007, ketika ia bergabung dengan klub Millitary Sport Association. Setelah menyelesaikan kontraknya selama 3 tahun, Zahir sebenarnya sempat kembali ke Prancis. Namun, saat Military Sport Association mendapatkan promosi, Zahir kembali memperkuat klub itu dengan kontrak selama 5 tahun.
Masalah muncul ketika Military Sport Association berubah menjadi Al-Jaish, dan Zahir tidak menandatangi perbaharuan kontrak yang menyatakan bahwa ia bekerja untuk Al-Jaish. Tiba-tiba saja Zahir tidak memiliki proteksi dan kejelasan status secara hukum. Di saat yang bersamaan, Al-Jaish juga seakan tidak lagi membutuhkan tenaga Zahir. Ia dianggap pemain surplus yang mesti dibuang. Zahir juga sempat dipinjamkan ke klub lain.
"Setelah satu tahun (berubah jadi Al-Jaish), mereka tiba-tiba menghentikan bayaranku," keluh Zahir, "dan setelah berbulan-bulan, mereka tetap mengatakan hal yang sama."
Getty Images
Komentar
Posting Komentar