Apa artinya menjadi tuan rumah Piala Dunia? Bagi Brasil, mungkin maknanya adalah menunjukkan kebangkitan mereka sebagai kekuatan ekonomi dunia. Bagi Afrika Selatan, bisa jadi sebagai alat untuk menunjukkan kesetaraan antara kulit hitam dan kulit putih di mata dunia.
Lalu apa arti dari Piala Dunia Qatar? Apa maknanya menyelenggarakan turnamen akbar di negara dengan pendapatan kapita terbesar di dunia ini?
Secara sederhana, menyelenggarakan Piala Dunia di negeri semenanjung ini, dari sudut pandang penulis, berarti mengajak dunia untuk melewati batas-batas nalar dan perhitungan matematis lewat sepakbola. Bahkan cuaca ekstrim, meroketnya biaya penyelenggaraan, dan minimnya keuntungan ekonomi tak sanggup untuk menghalangi Qatar untuk menjamu dunia.
63 Kali dari Afrika Selatan 2010
Menilik rencana mega proyek Piala Dunia 2022, tak heran mata dunia terbelalak. Menurut seorang analis hukum dan keuangan Jerman, Dr. Nicola Ritter, Qatar bahkan diestimasikan akan menghabiskan uang hingga 220 miliar dolar!
Nilai tersebut hampir mencapai 63 kali lipat besaran biaya yang dikeluarkan oleh Afrika Selatan dalam Piala Dunia 2010. Kala itu Afsel hanya menghabiskan biaya sebesar 3,5 miliar dolar.
Tak heran Qatar merebut hak sebagai tuan rumah dari tangan Australia, Korea Selatan, Jepang dan Amerika Serikat. Qatar memang tidak main-main dalam mempersiapkan dirinya.
Nilai yang tampak tidak rasional ini seolah hal kecil bagi Qatar. Bisa dibayangkan, dengan 220 miliar dollar, angka tersebut setidaknya mampu menyamai besaran rekor defisit anggaran terbesar yang dialami oleh Amerika Serikat pada Februari 2011.
Angka itu juga setara dengan 25 kali penyelenggaraan Olimpiade 2012 di London, yang sudah dikatakan banyak orang sebagai olimpiade yang paling mahal. Atau, mereka bisa membangun lebih dari 500 stadion setara Allianz Arena di Munich.
Bisa ditengok. Semua hal-hal besar diatas setara dengan biaya yang dianggarkan Qatar dalam membangun stadion dengan fasilitas air contioner, kota yang dibangun dari awal, dan sarana pendukung lainnya. Semuanya hanya untuk menggelar Piala Dunia.
Lalu apa arti dari Piala Dunia Qatar? Apa maknanya menyelenggarakan turnamen akbar di negara dengan pendapatan kapita terbesar di dunia ini?
Secara sederhana, menyelenggarakan Piala Dunia di negeri semenanjung ini, dari sudut pandang penulis, berarti mengajak dunia untuk melewati batas-batas nalar dan perhitungan matematis lewat sepakbola. Bahkan cuaca ekstrim, meroketnya biaya penyelenggaraan, dan minimnya keuntungan ekonomi tak sanggup untuk menghalangi Qatar untuk menjamu dunia.
63 Kali dari Afrika Selatan 2010
Menilik rencana mega proyek Piala Dunia 2022, tak heran mata dunia terbelalak. Menurut seorang analis hukum dan keuangan Jerman, Dr. Nicola Ritter, Qatar bahkan diestimasikan akan menghabiskan uang hingga 220 miliar dolar!
Nilai tersebut hampir mencapai 63 kali lipat besaran biaya yang dikeluarkan oleh Afrika Selatan dalam Piala Dunia 2010. Kala itu Afsel hanya menghabiskan biaya sebesar 3,5 miliar dolar.
Tak heran Qatar merebut hak sebagai tuan rumah dari tangan Australia, Korea Selatan, Jepang dan Amerika Serikat. Qatar memang tidak main-main dalam mempersiapkan dirinya.
Nilai yang tampak tidak rasional ini seolah hal kecil bagi Qatar. Bisa dibayangkan, dengan 220 miliar dollar, angka tersebut setidaknya mampu menyamai besaran rekor defisit anggaran terbesar yang dialami oleh Amerika Serikat pada Februari 2011.
Angka itu juga setara dengan 25 kali penyelenggaraan Olimpiade 2012 di London, yang sudah dikatakan banyak orang sebagai olimpiade yang paling mahal. Atau, mereka bisa membangun lebih dari 500 stadion setara Allianz Arena di Munich.
Bisa ditengok. Semua hal-hal besar diatas setara dengan biaya yang dianggarkan Qatar dalam membangun stadion dengan fasilitas air contioner, kota yang dibangun dari awal, dan sarana pendukung lainnya. Semuanya hanya untuk menggelar Piala Dunia.
Getty Images
Komentar
Posting Komentar