Tak ada yang pasti di dunia ini, kecuali kematian dan pajak. Demikian pikiran yang pernah dilontarkan oleh Benjamin Franklin dan Daniel Defoe.
Menurut mereka, seorang manusia tidak mungkin menghindari kematian sebagaimana ia juga tak mungkin mengelak dari beban pajaknya semasa hidup. Tapi mungkin saja mereka berdua tidak kenal klub-klub dan para pemain sepakbola.
Dari kasus yang melibatkan Presiden Bayern Munich, Uli Hoeness, terkuak bahwa isu penggelapan pajak memang telah menjadi hal yang lazim dalam dunia sepakbola. Mulai dari pemain, pelatih hingga klub terkadang dengan secerdik mungkin menghindari kewajibannya itu.
Umumnya ini terjadi karena besarnya beban yang harus dibayarkan. Dengan tingginya gaji yang diterima oleh para pelaku sepakbola, tentu pajaknya pun akan tinggi nilainya. Well, siapa yang rela berpisah dengan pundi-pundi uangnya, bukan?
Sama halnya seperti organisasi ataupun perusahaan, pemain dan pelatih tentunya mengharapkan laba maksimal dari penghasilan mereka. Adanya anggapan bahwa pajak merupakan suatu beban juga turut menyebabkan isu ini tak pernah lepas dari sepakbola.
Oleh karena itulah, terkadang pajak sampai mendikte nasib para pesepakbola. Pemain seperti David Beckham atau Xabi Alonso akan melihat besaran penghasilan setelah pajak yang akan didapatkan, ketika hendak memutuskan hengkang dari klub asalnya. Juga dengan beberapa aktor dalam lapangan hijau seperti Lionel Messi, Wayne Rooney, Ashley Cole. Bahkan, hingga klub sekaliber Real Madrid dan Barcelona pun ingin menghindari pajak yang tinggi.

Maka, tidak heran jika mereka yang terlibat dalam industri sepakbola menggunakan jasa konsultan pajak. Dengan teliti mereka merancang skema untuk meminimalisir kewajiban pajaknya.
Saking cerdiknya, beberapa perencanaan pajak yang telah "dikutak-katik" itu mungkin dapat dikatakan disusun secara jujur dan sah. Akan tetapi, selalu saja terdapat pelanggaran. Terlebih jika perencanaan tersebut dilakukan dengan melanggar etika dan undang-undang yang berlaku.
Ilmu perpajakan sendiri mengenal bahwa penggelapan pajak merupakan bagian dari tax evasion, atau suatu upaya untuk menguntungkan organisasi dengan mengurangi beban pajak. Akan tetapi, terdapat pelanggaran yang diterapkan dalam upaya tersebut. Karenanya penggelapan pajak merupakan suatu tindak pidana.
Penggelapan Pajak dari Hasil Image Rights
Pada lingkup pemain, contoh kasus pajak yang populer adalah yang menimpa Lionel Messi. Sebagaimana diketahui, pemain terbaik dunia 3 kali berturut-turut ini, di luar dari penghasilannya sebagai pemain, memiliki suntikan dana segar dari penjualan image rights. Pemasukan dari image rights inilah yang berusaha disembunyikan Messi dengan cara mengalirkan arus kas kepada suatu perusahaan.
Menurut mereka, seorang manusia tidak mungkin menghindari kematian sebagaimana ia juga tak mungkin mengelak dari beban pajaknya semasa hidup. Tapi mungkin saja mereka berdua tidak kenal klub-klub dan para pemain sepakbola.
Dari kasus yang melibatkan Presiden Bayern Munich, Uli Hoeness, terkuak bahwa isu penggelapan pajak memang telah menjadi hal yang lazim dalam dunia sepakbola. Mulai dari pemain, pelatih hingga klub terkadang dengan secerdik mungkin menghindari kewajibannya itu.
Umumnya ini terjadi karena besarnya beban yang harus dibayarkan. Dengan tingginya gaji yang diterima oleh para pelaku sepakbola, tentu pajaknya pun akan tinggi nilainya. Well, siapa yang rela berpisah dengan pundi-pundi uangnya, bukan?
Sama halnya seperti organisasi ataupun perusahaan, pemain dan pelatih tentunya mengharapkan laba maksimal dari penghasilan mereka. Adanya anggapan bahwa pajak merupakan suatu beban juga turut menyebabkan isu ini tak pernah lepas dari sepakbola.
Oleh karena itulah, terkadang pajak sampai mendikte nasib para pesepakbola. Pemain seperti David Beckham atau Xabi Alonso akan melihat besaran penghasilan setelah pajak yang akan didapatkan, ketika hendak memutuskan hengkang dari klub asalnya. Juga dengan beberapa aktor dalam lapangan hijau seperti Lionel Messi, Wayne Rooney, Ashley Cole. Bahkan, hingga klub sekaliber Real Madrid dan Barcelona pun ingin menghindari pajak yang tinggi.

Maka, tidak heran jika mereka yang terlibat dalam industri sepakbola menggunakan jasa konsultan pajak. Dengan teliti mereka merancang skema untuk meminimalisir kewajiban pajaknya.
Saking cerdiknya, beberapa perencanaan pajak yang telah "dikutak-katik" itu mungkin dapat dikatakan disusun secara jujur dan sah. Akan tetapi, selalu saja terdapat pelanggaran. Terlebih jika perencanaan tersebut dilakukan dengan melanggar etika dan undang-undang yang berlaku.
Ilmu perpajakan sendiri mengenal bahwa penggelapan pajak merupakan bagian dari tax evasion, atau suatu upaya untuk menguntungkan organisasi dengan mengurangi beban pajak. Akan tetapi, terdapat pelanggaran yang diterapkan dalam upaya tersebut. Karenanya penggelapan pajak merupakan suatu tindak pidana.
Penggelapan Pajak dari Hasil Image Rights
Pada lingkup pemain, contoh kasus pajak yang populer adalah yang menimpa Lionel Messi. Sebagaimana diketahui, pemain terbaik dunia 3 kali berturut-turut ini, di luar dari penghasilannya sebagai pemain, memiliki suntikan dana segar dari penjualan image rights. Pemasukan dari image rights inilah yang berusaha disembunyikan Messi dengan cara mengalirkan arus kas kepada suatu perusahaan.
Getty Images
Komentar
Posting Komentar