Malam itu, 2 Desember 2010, di markas FIFA semua mata dan lensa kamera tertuju pada secarik kertas putih yang dibuka oleh Sepp Blatter. Secara mengejutkan, nama Qatar tertera di selembar kertas itu. Semua orang pun terkaget-kaget. Qatar terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.
Sejak saat itu juga nama "Qatar" kerap menjadi gunjingan publik. Padahal, tugasnya untuk menunaikan Piala Dunia masihlah amat lama. Masih 12 tahun lagi. Sejak saat itu pula Qatar seolah menjadi black hole. Jadi pusaran politik yang menyedot banyak kepentingan ke dalamnya.
Aroma politik memang terasa kental dalam pemilihan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Tak tanggung-tanggung, dua pejabat tinggi sepakbola, Presiden FIFA Sepp Blatter dan Presiden UEFA Michael Platini, secara terus terang mengakuinya.
Awal-Awal Polemik Pemilihan Qatar
Semua itu bermula di tahun 2011. Baru beberapa bulan Qatar berbahagia mendapatkan jatah sebagai tuan rumah, isu membeli suara riuh terdengar lewat bocornya email Sekjen FIFA, Jerome Valckle, pada Wakil Presiden FIFA, Jack Walner.
FIFA pun (terpaksa) turun tangan.
Investigasi dilakukan, tapi nihil hasil. Kekuatan finansial yang jadi daya tawar Qatar dinyatakan wajar dan legal, karena toh calon-calon lainnya pun akan menggelontorkan ratusan juta dolar untuk jadi tuan rumah.
Blatter, yang kala itu belum bermusuhan dengan Muhammad Bin Hammam –(eks) sekjen AFC berkewarganegaraan Qatar--, pun mendukung penuh kemenangan Qatar meski ia memilih Amerika Serikat dalam proses bidding.
Blatter berdalih. Ia berkata bahwa sejak awal abad 19, sepakbola memainkan peranan penting dalam pembangunan nasional dan kehidupan sosial di Timur Tengah. Tapi, tak pernah sekalipun event kelas dunia sekelas olimpiade atau Piala Dunia hadir di sana. Lewat Qatar 2022, Blatter ingin mendobrak hal itu.
Namun, majunya Bin Hammam pada pemilihan presiden FIFA tahun 2022 membuat Blatter menjaga jarak dengan Qatar. Terlebih lagi setelah korupsi FIFA akhirnya terkuak. Bin Hammam dijatuhi hukuman karena melakukan suap dalam pemilihan Presiden FIFA. Komplit sudah kerenggangan antara Blatter dan Bin Hammam. Meski demikian, banyak yang menganggap sikap Blatter yang menjauh dari Qatar seolah dia ingin cuci tangan. Terlebih lagi banyak eks anggota Exco lainnya berguguran karena tertangkap menerima suap soal bidding Piala Dunia.
Sejak saat itu juga nama "Qatar" kerap menjadi gunjingan publik. Padahal, tugasnya untuk menunaikan Piala Dunia masihlah amat lama. Masih 12 tahun lagi. Sejak saat itu pula Qatar seolah menjadi black hole. Jadi pusaran politik yang menyedot banyak kepentingan ke dalamnya.
Aroma politik memang terasa kental dalam pemilihan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Tak tanggung-tanggung, dua pejabat tinggi sepakbola, Presiden FIFA Sepp Blatter dan Presiden UEFA Michael Platini, secara terus terang mengakuinya.
Awal-Awal Polemik Pemilihan Qatar
Semua itu bermula di tahun 2011. Baru beberapa bulan Qatar berbahagia mendapatkan jatah sebagai tuan rumah, isu membeli suara riuh terdengar lewat bocornya email Sekjen FIFA, Jerome Valckle, pada Wakil Presiden FIFA, Jack Walner.
FIFA pun (terpaksa) turun tangan.
Investigasi dilakukan, tapi nihil hasil. Kekuatan finansial yang jadi daya tawar Qatar dinyatakan wajar dan legal, karena toh calon-calon lainnya pun akan menggelontorkan ratusan juta dolar untuk jadi tuan rumah.
Blatter, yang kala itu belum bermusuhan dengan Muhammad Bin Hammam –(eks) sekjen AFC berkewarganegaraan Qatar--, pun mendukung penuh kemenangan Qatar meski ia memilih Amerika Serikat dalam proses bidding.
Blatter berdalih. Ia berkata bahwa sejak awal abad 19, sepakbola memainkan peranan penting dalam pembangunan nasional dan kehidupan sosial di Timur Tengah. Tapi, tak pernah sekalipun event kelas dunia sekelas olimpiade atau Piala Dunia hadir di sana. Lewat Qatar 2022, Blatter ingin mendobrak hal itu.
Namun, majunya Bin Hammam pada pemilihan presiden FIFA tahun 2022 membuat Blatter menjaga jarak dengan Qatar. Terlebih lagi setelah korupsi FIFA akhirnya terkuak. Bin Hammam dijatuhi hukuman karena melakukan suap dalam pemilihan Presiden FIFA. Komplit sudah kerenggangan antara Blatter dan Bin Hammam. Meski demikian, banyak yang menganggap sikap Blatter yang menjauh dari Qatar seolah dia ingin cuci tangan. Terlebih lagi banyak eks anggota Exco lainnya berguguran karena tertangkap menerima suap soal bidding Piala Dunia.
AFP
Komentar
Posting Komentar