Rafa Layak untuk Lebih Dihargai

thumbnail
Ini akan menjadi pekan terakhir dalam karier kepelatihan Rafael Benitez bersama Chelsea. Apapun hasil laga final Liga Europa pada dinihari nanti dan pertandingan penutup Liga Inggris lawan Everton pada akhir pekan ini, Rafa sudah dipastikan tak lagi menangani The Blues untuk musim mendatang.

Keputusan soal masa depan Rafa memang bukan baru akhir-akhir ini dibuat. Bahkan sejak hari pertama kedatangannya di Stamford Bridge, sang taipan Roman Abramovich sudah memutuskan bahwa Rafa hanya pilihan sementara untuk mengisi pos yang ditinggalkan Roberto Di Matteo. Makanya, muncul sebutan "pelatih interim" yang membuat Rafa kecewa dan merasa direndahkan.

Sikap Abramovich yang hanya memposisikan Rafa sebagai "pelatih interim" cukup bisa dimengerti. Tentu saja, ia tak ingin berseberangan dengan para pendukung fanatik Chelsea yang tak bisa melupakan masa lalu Rafa bersama Liverpool, klubnya terdahulu.

Dalam sepakbola, terutama di Inggris, rivalitas kadang-kadang memang mengabaikan realitas dan rasionalitas. Rivalitas Rafa dengan Jose Mourinho pada periode 2004-2007 membuatnya segera jadi figur tak populer sejak hari pertama kedatangannya di klub asal London itu. Dan fakta ini tak pernah berubah hingga hari-hari menjelang kepergiannya.

Nah, ini yang menarik. Mengapa ketidaksukaan para suporter begitu besar sampai-sampai mereka tak bisa menghargai apa yang sudah dicapai Rafa bersama Chelsea: final Piala Dunia Antarklub, final Liga Europa, dan lolos ke Liga Champions musim depan?

Benar, sejatinya tidak semua pendukung Chelsea membenci Rafa. Sebagian mulai menyadari dan mengapresiasi kontribusinya dalam mengembalikan kestabilan di Stamford Bridge pascakepergian Di Matteo. Hanya saja, arus besar sikap suporter "Si Biru" tetap menginginkan Rafa didepak dan Mourinho jadi penggantinya.



Bagaimanapun, Mourinho memang punya tempat istimewa di hati pendukung Chelsea. Enam trofi yang diraihnya selama tiga setengah musim membesut John Terry dan kawan-kawan memang tak tertandingi oleh para pelatih Chelsea lainnya dalam dua dekade terakhir: Ruud Gullit, Gianluca Vialli, Guus Hiddink, hingga Carlo Ancelotti.

Namun demikian, menganggap kedatangan Mourinho akan serta-merta mengembalikan posisi Chelsea sebagai klub nomor satu di Inggris mungkin agak berlebihan. Peta kekuatan Liga Primer saat ini sangat berbeda dengan saat Mourinho pertama kali mendarat di Stamford Bridge pada Juni 2004.

Menjelang musim 2004/2005 itu, Manchester United (MU) sedang memasuki fase transisi ke generasi Wayne Rooney. Manchester City belum jadi kekuatan besar dan Liverpool tak punya skuat yang cukup kuat untuk menguasai Liga Primer. Praktis hanya Arsenal yang saat ini sangat stabil dengan Thierry Henry sebagai pilarnya.

Komentar