A Barefoot Dream (2010)
Memainkan Sepakbola Terindah di Tanah Timor Leste
Bagi para penggemarnya, sepakbola boleh dikatakan sebagai bahasa universal. Satu lapangan, gawang, dan bola seadanya sudah cukup untuk menjembatani seorang asing dengan tanah yang dipijaknya. Kegembiraan dan gairah bermain bola, seberapa pun klise ungkapan ini, memang mampu "berbicara" pada seseorang yang memang menyukai permainan ini.
Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Kim Sin-Hwan, seorang mantan pemain timnas Korea Selatan yang terdampar di Timor Leste. Sempat akan meninggalkan negara itu, sepakbola liar yang dimainkan kaki-kaki telanjang anak Timor Leste justru menariknya kembali.
Dalam film "A Barefoot Dream" karya sutradara Kim Tae-Gun, cerita Sin-Hwan ini dikisahkan ulang. Satu drama sepakbola luar biasa berlatar belakang Timor Leste ini diangkat dari kisah nyata, yaitu saat Sin-Hwan sukses mengantarkan tim muda Timor Leste juara di Jepang.
Jika Anda adalah anak-anak generasi 90-an ke belakang, film ini juga akan cocok untuk Anda. Terlebih jika masa kecil anda dipenuhi oleh sepakbola dan mimpi untuk menjadi pemain sepakbola profesional. Semua kenangan masa kecil dan mimpi-mimpi masa lalu Anda akan digambarkan dengan sangat hebat di film ini.
Rutinitas sehari-hari mengajak tetangga untuk bermain bola, tanpa harus sewa lapangan, tanpa alas kaki, tanpa peraturan yang ketat, cukup dengan tanah lapang yang cukup datar dan sebuah bola, akan tergambar di film ini.
Sepakbola dimainkan dengan sangat sederhana, namun justru sangat menyenangkan. Seperti yang diucapkan oleh Sin-Hwan, tokoh utama film ini, pada suatu percakapan, "Siapa bilang kita tidak bisa bermain sepakbola jika miskin?"
Ya, sepakbola yang menarik Sin-Hwan untuk tinggal adalah sepakbola yang dimainkan tanpa beban sama sekali. Tidak perlu wasit atau teknologi apapun untuk membuat permainan menjadi adil. Semua hanya berlandaskan kejujuran para pemain. Permainan berakhir ketika para orang tua sudah memanggil, atau ketika orang-orang dewasa mengambil alih lapangan.
Dalam film ini dikisahkan bahwa Timor Leste baru merdeka selama 2 tahun. Meski timnasnya belum bertanding, namun hampir seluruh anak laki-laki di negeri tersebut bermimpi untuk jadi pemain sepakbola profesional. Indonesia adalah tujuan mereka, mengingat belum adanya liga profesional yang bergulir di Timor Leste.
Meski menyajikan tentang sepakbola yang dimainkan oleh anak-anak yang lugu, film ini sendiri tak lupa memberikan latar yang sebenarnya. Tak hanya menayangkan alam Timor Leste, dalam film, Kim Tae-Gun juga menyisipkan berbagai konflik dan latar belakang sosial Timor Leste, yang kala itu baru memisahkan diri dari Indonesia.
Dengan cerita menarik, yang dimainkan oleh aktor dewasa dan anak-anak secara baik, tak salah jika film ini juga didaftarkan dalam nominasi film berbahasa asing di ajang Academy Awards 2011.
Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Kim Sin-Hwan, seorang mantan pemain timnas Korea Selatan yang terdampar di Timor Leste. Sempat akan meninggalkan negara itu, sepakbola liar yang dimainkan kaki-kaki telanjang anak Timor Leste justru menariknya kembali.
Dalam film "A Barefoot Dream" karya sutradara Kim Tae-Gun, cerita Sin-Hwan ini dikisahkan ulang. Satu drama sepakbola luar biasa berlatar belakang Timor Leste ini diangkat dari kisah nyata, yaitu saat Sin-Hwan sukses mengantarkan tim muda Timor Leste juara di Jepang.
Jika Anda adalah anak-anak generasi 90-an ke belakang, film ini juga akan cocok untuk Anda. Terlebih jika masa kecil anda dipenuhi oleh sepakbola dan mimpi untuk menjadi pemain sepakbola profesional. Semua kenangan masa kecil dan mimpi-mimpi masa lalu Anda akan digambarkan dengan sangat hebat di film ini.
Rutinitas sehari-hari mengajak tetangga untuk bermain bola, tanpa harus sewa lapangan, tanpa alas kaki, tanpa peraturan yang ketat, cukup dengan tanah lapang yang cukup datar dan sebuah bola, akan tergambar di film ini.Sepakbola dimainkan dengan sangat sederhana, namun justru sangat menyenangkan. Seperti yang diucapkan oleh Sin-Hwan, tokoh utama film ini, pada suatu percakapan, "Siapa bilang kita tidak bisa bermain sepakbola jika miskin?"
Ya, sepakbola yang menarik Sin-Hwan untuk tinggal adalah sepakbola yang dimainkan tanpa beban sama sekali. Tidak perlu wasit atau teknologi apapun untuk membuat permainan menjadi adil. Semua hanya berlandaskan kejujuran para pemain. Permainan berakhir ketika para orang tua sudah memanggil, atau ketika orang-orang dewasa mengambil alih lapangan.
Dalam film ini dikisahkan bahwa Timor Leste baru merdeka selama 2 tahun. Meski timnasnya belum bertanding, namun hampir seluruh anak laki-laki di negeri tersebut bermimpi untuk jadi pemain sepakbola profesional. Indonesia adalah tujuan mereka, mengingat belum adanya liga profesional yang bergulir di Timor Leste.
Meski menyajikan tentang sepakbola yang dimainkan oleh anak-anak yang lugu, film ini sendiri tak lupa memberikan latar yang sebenarnya. Tak hanya menayangkan alam Timor Leste, dalam film, Kim Tae-Gun juga menyisipkan berbagai konflik dan latar belakang sosial Timor Leste, yang kala itu baru memisahkan diri dari Indonesia.
Dengan cerita menarik, yang dimainkan oleh aktor dewasa dan anak-anak secara baik, tak salah jika film ini juga didaftarkan dalam nominasi film berbahasa asing di ajang Academy Awards 2011.
(Catchplay)
Komentar
Posting Komentar